Archive for Kesehatan

Protein Anti-Kanker dari Tembakau

Oleh beritaiptek.comSiapa sangka bahwa tanaman tembakau yang biasanya dijadikan bahan
dasar rokok -sang penyebab kanker- , ternyata dapat pula menghasilkan
protein anti-kanker. Anti-kanker dari tembakau ini diungkapkan oleh
peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI), Dr. Arief Budi Witarto M.Eng. yang baru beberapa
pekan lalu (Rabu, 13 Juni) terpilih sebagai penerima penghargaan
Fraunhofer-DAAD-Award 2007 dari Jerman untuk riset tentang tembakau
molecular farming.

Arief telah menekuni bidang pertanian molekuler alias molecular
farming sejak 2003 bersama timnya di Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI). Proyek ini telah melahirkan perkebunan molekuler di
Cibinong Science Center yang akhirnya mengantarkannya memperoleh
penghargaan dengan nama Technopreneur Award 2007. Kini Arief
berkesempatan melakukan penelitian bersama di salah satu Fraunhofer
Institut di Jerman. DAAD akan memberikan beasiswa selama empat bulan
kunjungan penelitian tersebut.
Dengan penelitian ini, dalam waktu tiga tahun, direncanakan sudah
diperoleh hasil yang dapat dilanjutkan untuk produksi tingkat industri
oleh PT Kimia Farma, Tbk. Melalui hasil penelitian ini diharapkan
harga obat-obat biofarmasetik penting dapat lebih dijangkau oleh
masyarakat luas.
Bagaimana Tembakau Menghasilkan Anti-Kanker
Pada dasarnya Arief mencoba untuk menghasilkan protein pencetus
(Growth Colony Stimulating Factor (GCSF)) dengan menggunakan tanaman
tembakau (Nicotiana spp., L.). Tembakau yang diambilnya adalah
tembakau lokal dari varietas yang paling sesuai, yaitu genjah kenongo,
dari total 18 varietas lokal yang ditelitinya.
Daun tembakau yang biasanya untuk roduksi rokok, kini ia manfaatkan
sebagai reaktor penghasil protein GCSF, suatu hormon yang sangat
penting dalam menstimulasi produksi darah.
Arief mengatakan bahwa protein dibuat oleh DNA dalam tubuh kita. Nah,
jika DNA dalam tubuh kita ini dipindahkan ke tembakau melalui bakteri,
begitu masuk, tumbuhan ini akan mampu membuat protein sesuai DNA yang
telah dimasukkan tersebut. Kemudian, jika tumbuhan itu dipanen, maka
kita dapatkan protein-nya. Nah, protein inilah yang bisa dipakai
sebagai protein anti-kanker.
Selain untuk protein anti-kanker, GSCF, ujarnya, bisa juga untuk
menstimulasi perbanyakan sel tunas (stem cell) yang bisa dikembangkan
untuk memulihkan jaringan fungsi tubuh yang sudah rusak.
Penghargaan di Bidang Protein
Arief memang pakar di bidang rekayasa protein salah satunya
dibuktikan dengan banyaknya penghargaan yang ia terima. Di antaranya,
Paramadina Award 2005 untuk bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dari
Universitas Paramadina dan PII Engineering Award 2005 untuk kategori
Adhicipta Rekayasa atau Best Creation in Engineering dari
PII/Persatuan Insinyur Indonesia.
Sebelumnya ia juga telah menerima penghargaan lain yaitu Science and
Technology Award 2003 dari Indonesia Toray Science Foundation (ITSF)
dan Peneliti Muda Terbaik Indonesia 2002 untuk bidang Ilmu Pengetahuan
Teknik dan Rekayasa dari LIPI.
Ia juga pernah terpilih dengan nilai tertinggi mewakili Indonesia
bersama empat peneliti muda Indonesia lainnya memenuhi undangan resmi
dari Pemerintah Jerman dalam Pertemuan Para Penerima Hadiah Nobel di
kota Lindau Jerman.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar